Friday, August 28, 2015

Ada guru EF marah


Kalau di sekolah ada guru yang marah pada muridnya itu wajar. Kalau di sebuah kursus ada guru yang marah pada muridnya itu tidak wajar. Hal itu terjadi di EF (English First) ada seorang guru yang marah pada muridnya. Guru itu bernama Miss Sxxxa.

Ceritanya begini, saat itu adalah pelajaran E+  yang direquest oleh salah satu murid mewakili satu kelas. Murid tersebut menyampaikan kepada mas Ade bahwa murid satu kelas minta pelajaran E+. Pada saat mengisi formulir E+, mas Ade mengatakan bahwa nama yang diisi cukup satu nama saja mewakili satu kelas. Jadi tidak perlu ditulis nama-nama seluruh murid.

Saat pelajaran dimulai dan gurunya datang, terlihat mimik wajah yang kurang bersahabat. Intinya, dia protes dan bisa dibilang marah. Menurutnya seharusnya dia mengajar satu orang saja sesuai nama yang ada di formulir tetapi mengapa yang datang jumlahnya banyak. Dia tidak siap menghadapi orang banyak. Semua murid diam saja sambil berpandangan satu sama lain karena merasa aneh baru sekali ini ada guru yang marah.

Saya memberanikan diri mewakili teman-teman yang diam dan menjelaskan bahwa pada saat mengisi formulir E+ pesertanya adalah satu kelas. Atas suruhan mas Ade bagian resepsionis cukup ditulis nama satu orang saja sebagai perwakilan. Jadi ini bukan kesalahan murid melainkan kesalahan EF (English First) sendiri. Murid sudah mengikuti prosedur dan administrasi yang ditetapkan EF (English First). Walaupun sudah saya jelaskan tetapi belum menghilangkan 100% kegalauan sang guru.

Akhirnya waktu yang ada tersita dan habis dengan hal-hal yang tak perlu. Durasi pelajaran yang cuma 1 jam 20 menit sudah terpotong dengan hal tersebut. Pelajarannya sendiri hanya bisa terselenggara dengan waktu yang singkat. Tidak sepantasnya guru marah di sebuah kursus yang bernama EF (English First). Mengapa ? Karena murid sudah membayar mahal pada EF dan tentu saja guru dibayar oleh EF dari uang tersebut. Selanjutnya, usia murid adalah dewasa sehingga tidak selayaknya marah seperti pada anak kecil.

Wednesday, August 26, 2015

5 Tahun berurusan dengan BSD City


Setelah kurang lebih 5 tahun lamanya pengembang BSD City (Sinar Mas Land) ingkar janji maka pada akhirnya mau memberikan ganti rugi atas keterlambatan pembangunan rumah yang dijualnya. Walaupun masih berupa tanda tangan diatas kertas namun saya berharap BSD mau membayarnya sesuai janjinya.
 


Cerita diawali ketika saya membeli rumah di BSD City (Sinar Mas Land) pada saat itu. Sesuai perjanjian di PPJB maka rumah akan selesai dibangun pada tanggal yang telah ditentukan oleh mereka. Mereka sendiri yang menentukan tetapi mereka juga yang mengingkari. Ternyata rumah belum jadi dan tidak sesuai target yang ditentukan. Sesuai dengan perjanjian di PPJB maka ada dendanya.

Sangat sulit untuk mengurus denda ini. Saya disuruh membuat surat permohonan dulu. Saya turuti dengan membuat surat tersebut dan saya serahkan ke marketingnya. Beberapa bulan kemudian tidak ada kabar maka saya menanyakan ke pihak marketing lagi. Jawabannya dia tidak tahu dan saya disuruh membuat surat permohonan lagi. Saya pun menurutinya dengan membuat lagi dan menyerahkan padanya.

Tunggu punya tunggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Bila dihubungi marketingnya maka akan dijawab sedang proses atau sedang dicek atau sedang dihitung dan berbagai alas an lainnya. Kadang juga dilempar ke bagian lain. Coba hubungi bagian keuangan atau coba hubungi bagian audit dan seterusnya. Tentu saja hal-hal menghindar seperti ini mengecewakan sekali.

Saya membuat surat pengaduan juga yang ditujukan kepada direkturnya tetapi tidak ada balasannya. Setelah beberapa bulan saya buat lagi surat pengaduan kepada direkturnya namun tetap tidak ada responnya. BSD City benar-benar tidak bertanggung jawab.

Selanjutnya saya mendatangi kantor customer servicenya yang berdekatan dengan BSD Plaza sambil membawa bukti-bukti yang ada. Customer service hanya bisa menampung dan tidak bisa menjawab apa-apa. Oh, ya namanya kalau tidak salah yaitu Verina. Dia berjanji akan menghubungi via telepon.

Kurang lebih sebulan tidak ada kabarnya maka sayapun berinisiatif menelpon ke Verina untuk menanyakan hasilnya. Sepertinya Verina tidak memfollow up complain sebelumnya sehingga dia tidak bisa menjawab apa-apa dan minta waktu lagi beberapa hari. Setelah beberapa hari dia menelpon dan memberitahu bahwa BSD tidak bisa membayar denda karena kejadiannya sudah lama. Saya menjelaskan bahwa lamanya ini karena ulah BSD City sendiri yang tidak merespon surat-surat saya. Dia pun tetap ngotot karena kejadiannya lama. Jawaban Verina sangat tidak professional.

Saya meminta untuk berbicara dengan atasannya atau managernya. Tetapi Verina menjawab bahwa atasannya tidak mau berbicara. Walah…. Ini perusahaan apa ya kok tidak professional begini.  Seharusnya sebagai seorang customer service memberikan solusi bagi pelanggannya bukannya ngeles. Akhirnya saya mengancam akan menyebar luaskan kasus ini di internet. Dia minta waktu untuk berdiskusi dengan atasannya lagi.

Beberapa minggu kemudian saya ditelepon oleh seorang laki-laki yang mengaku dari BSD City. Dia mengatakan bahwa BSD City menyetujui membayar denda Rp.500 ribu saja. Menurut saya nilai tersebut kecil sekali dan tidak sesuai dengan PPJB.  Akhirnya saya mengalah dan menerimanya.

Tunggu punya tunggu sudah hampir setahun tidak ada kabarnya. Sayapun menghubungi laki-laki itu lagi dan dijanjikan minggu depan bisa datang ke kantor BSD City. Tanda tangan sudah dilakukan dan tinggal menunggu pelaksanaan pembayarannya.

Mudah-mudahan BSD City tidak ingkar janji lagi untuk membayarnya. Cukup lelah bertahun-tahun berurusan dengan BSD City yang tidak seindah gedung kantornya. Oh ya, pada surat yang ditanda tangani ada tulisan “tidak akan menuntut PT. BSD di kemudian hari”. Ini berarti BSD sudah mengerti kalau dirinya salah, betul tidak ?

Tuesday, August 25, 2015

Promosi EF tidak benar


 
Dalam promosi EF (English First) menyatakan “Teknologi terdepan di kelas. Pengalaman di kelas kami mengedepankan pendekatan teknologi. TV dan papan tulis interaktif merupakan pusat dari pengalaman anda di kelas”.




Apa yang ditulis tersebut terlalu berlebihan dan bisa dikatakan tidak benar. Seolah-olah semua kelas dilengkapi dengan fasilitas TV dan papan tulis interaktif. Perlu diketahui tidak ada kelas yang mempunyai TV dan papan tulis interaktif secara bersamaan. 


Tidak semua kelas mempunyai TV. Hanya beberapa kelas saja yang mempunyai TV. Kalaupun ada kelas yang memiliki TV maka tidak ada papan tulis putihnya (white board) karena layar kaca TV digunakan sekaligus sebagai papan tulis. Spidol yang digunakan warna putih dan agak sulit untuk dihapus.  Akibatnya guru sering mengeluh dan jarang menulis bila menempati kelas seperti ini.

Tidak semua kelas mempunyai papan tulis interaktif. Hanya ada kurang lebih dua kelas saja yang memiliki papan tulis interaktif. Itupun dipakainya hanya sekali-sekali saja dan temporary bergantian antara murid tingkat yang satu dan murid tingkat yang lainnya. Bahkan tak jarang kosong melompong dan hanya sebagai pajangan saja dan show off pada pengunjung. Khususnya yang berada di lantai 1 setidaknya sebagai bahan pamer kepada pengunjung, tamu atau pendaftar baru. Ini lho, ruangan kelasnya sebagus ini. Padahal ruangan-ruangan kelas lainnya tidak seperti itu.

Jadi jangan terkecoh dengan contoh ruangan kelas di lantai satu.

Monday, August 24, 2015

Giant Villa Melati Mas mengecewakan


Hari Jumat tanggal 21 Agustus 2015 ada promosi di koran Kompas dari Giant. Di iklan tersebut ada diskon sebesar 40 % untuk beras merek si Pulen 5 Kg dari harga Rp.133.490,- menjadi Rp.79.900,- Promo ini berlaku hanya untuk tanggal 21, 22 dan 23 Agustus saja.

Pada jam 18:00 saya pergi menuju Giant Villa Melati Mas. Pada rak bagian beras tersedia tiga macam beras untuk merek Si Pulen, yaitu warna kuning, merah dan ungu. Warna ungu inilah yang akan saya beli karena berjenis pandan wangi. Namun ternyata tidak ada label harganya sama sekali untuk semua type beras Si Pulen. Sayapun menanyakan kepada pegawai laki-laki dengan pakaian kaos seragam Giant yang ada disana tetapi dia tidak tahu harganya. Saya pun meminta untuk dicek harganya, diapun lantas pergi sambil membawa contoh berasnya. Selanjutnya dia datang dan mengatakan harganya Rp.117.000,-. Saya menanyakan apakah tidak ada diskonnya ? Dijawab tidak ada. Sayangnya saya tidak membawa koran Kompas sebagai barang buktinya. Akhirnya saya tidak jadi membeli beras Si Pulen.


Pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2015 karena ada suatu keperluan saya pergi ke Giant Villa Melati Mas lagi. Ketika melewati rak beras saya melihat label harga beras Si Pulen Rp.77.290,- ini artinya ada diskon seperti yang diiklankan di Koran. Tentu saja ini mengecewakan saya karena kemaren dikatakan oleh pegawainya tidak ada diskon. Terlebih kecewa lagi Si Pulen warna ungu sudah habis dan tidak ada stoknya.

Saran saya kepada Giant Villa Melati Mas. Jangan membuat jebakan kepada konsumen dengan tidak memberi label harga pada rak. Juga jangan membohongi konsumen bila ada diskon tetapi mengatakan tidak ada diskon.

Friday, August 21, 2015

Promosi harga murah Bread Talk mengurangi mutu


Dalam rangka ulang tahun toko roti Bread talk yang kedua belas maka pada tanggal 19 Agustus 2015 ada promosi semua roti harganya sama yaitu Rp.6500,-. Promosi ini berlaku di seluruh Indonesia dengan syarat pembayaran cash.

Kebetulan saya ingin membeli roti maka saya menuju ke Bread talk di Mall Living World yang berada di Alam Sutera. Tak disangka toko roti itu diserbu pembeli sedemikian rupa sehingga berebutan roti yang baru matang dari oven. Pada rak-rak display sudah tidak ada roti sama sekali kecuali roti tawar. Karena sudah kepalang tanggung ya terpaksa ikut antri dan ikut berebutan. Akhirnya dapat sebanyak empat roti saja sebab lama nunggu matangnya roti yang masih di oven.




Bila saya amati dengan harga yang murah itu sebenarnya sama saja karena sudah diakali oleh pemiliknya sebagai berikut :
- Tidak semua jenis roti tersedia.
- Yang diproduksi hari itu adalah roti-roti yang memang harganya murah.
- Tidak berlaku untuk roti dalam kotak atau tart.
- Bahan dikurangi sehingga bentuk roti diubah menjadi lebih kecil dari biasanya.


Semestinya akal-akalan seperti ini tidak boleh terjadi. Sebagai perusahaan yang menyediakan makanan dan mengandalkan kualitas seharusnya tetap mengutamakan mutu dan standard yang menjadi acuan. Mengurangi mutu untuk promosi dengan kedok harga murah akan berdampak di kemudian hari. Pelanggan akan merasa kecewa dengan promosi-promosi berikutnya dan tidak percaya lagi akan mutu dari rotinya.

Thursday, August 20, 2015

Bank BRI malas


Pagi-pagi sekali saya pergi hendak menabung di BRI alias Bank Rakyat Indonesia bank plat merah milik pemerintah. Tempat yang saya tuju adalah Mall Taman Anggrek karena sekaligus bisa buat jalan-jalan dan cuci mata.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 9 yang berarti sudah jam 9:00. Namun ternyata, bank BRI belum buka dan ada tulisan “tutup” dipintu kacanya. Kebetulan ada orang didalamnya maka saya sempatkan untuk bertanya, apakah belum buka ? Dijawab belum, bukanya nanti jam 10:00. Walah…. Jaman sudah modern seperti sekarang ini, bank BRI buka nya siang hari. Ini namanya malas. Malas buka pagi hari.



Bank BRI belum berubah. Paradigma lama, budaya lama masih dipakai. cenderung pasif dan tidak aktif. Cenderung lelet dan tidak gesit. Di saat bank-bank lain buka jam 8:00 untuk mencari peluang tetapi bank BRI malah menutup peluang yang ada. Sayang sekali. Mungkin para pegawai dari tingkat atas dan bawah masih terlena dengan statusnya yang merupakan BUMN atau pemerintah. Malas atau rajin tetap digaji, pintar atau bodoh tetap digaji, buka atau tutup tetap menerima gaji.

Dengan terpaksa saya menunggu sampai jam 10:00. Setelah itu saya menuju kasir untuk menabung uang dengan terlebih dahulu mengisi form setoran. Padahal di bank BRI lainnya tidak perlu mengisi form setoran melainkan langsung  ke kasir dan nantinya akan mendapat bukti setor print-printan. Buku tabungan juga di print.
Selesai sudah urusan dengan bank BRI dan begitu keluar pintu sambil jalan saya cek buku tabungan saya. Ternyata transaksi di bulan Juni 2015 tidak tercetak. Sebelumnya di buku tabungan, print terakhir adalah bulan Mei 2015. Dengan menabung dibulan Agustus ini seharusnya yang tercetak adalah bulan Juni, Juli dan Agustus. Tetapi bulan Juni tidak tercetak sama sekali.

Untung masih belum jauh dari bank BRI dan saya memutuskan kembali untuk menanyakan hal tersebut. Kasir mengatakan bahwa kemungkinan time out saat dicetak sehingga tidak muncul. Kalau time out kenapa saya disalahin, itu kan bukan salah saya. Kalaupun time out itu kan kesalahan dari sistimnya BRI. Kasir mengatakan bahwa tidak bisa dicetak lagi. Akhirnya saya disuruh ke customer service untuk dicetak rekening korannya.  Sayapun protes, karena kalau ke customer service harus antri panjang lagi. Namun kasir dengan angkuhnya seolah-olah tidak bersalah tetap menyuruh ke customer service.

Dengan perasaan kesal sayapun menuju ke satpam untuk mengambil nomor antrian karena satpam yang memegang nomornya (kalau bank lain pakai mesin otomatis). Satpam sepertinya mendengarkan perdebatan kami sebelumnya karena jaraknya cukup dekat sekitar 2 meter saja. Satpam bertanya masalahnya kenapa dan saya ceritakan apa adanya. Maka dia tidak memberikan nomor antrian tapi langsung mencatat nomor rekening ke kertas kecil. Selanjutnya kertas tersebut diberikan ke customer service.

Selang 10 menit kemudian, customer service memberikan rekening koran. Saya cek transaksi selama bulan Juni sudah tercetak. Namun dibuku tabungan tetap tidak bisa dicetak sehingga terlihat loncat dari bulan Mei langsung ke bulan Juli.

Cukup melelahkan berurusan dengan bank plat merah milik pemerintah ini. Banyak waktu yang tersita dan terbuang dengan percuma. Perlu adanya banyak perubahan mulai dari jam buka yang siang, sistim komputer yang tidak handal, pegawai yang lelet, etos kerja yang kurang dan lain-lain.

Wednesday, August 19, 2015

Ini wajah maling EF



Berdasarkan rekaman CCTV yang ada di EF (English First) maka dapat dilihat pelaku maling terdiri dari 4 orang dengan mengendarai 2 sepeda motor. Dua orang standby di atas sepeda motor sebagai pengendara, satu orang wanita yang mencongkel seped motor dan satu orang laki-laki yang mengawasi keadaan. Tampak dalam foto wajah dari laki-laki yang mengawasi keadaan.


Mudah-mudahan para maling ini sadar dan tidak berbuat lagi. Tuhan pasti mengampuni dan menyayangi umatNya.

Friday, August 14, 2015

Ada maling di EF


Beberapa hari yang lalu terjadi kehebohan sepulang kursus di EF (English First). Lokasi tempatnya yaitu di parkiran sepeda motor yang persis berada di depan pintu masuk EF.  Rupanya kehebohan itu disebabkan ramai-ramai membicarakan maling sepeda motor.

Begini ceritanya, ada upaya pencurian sepeda motor sebanyak tiga buah.  Malingnya adalah seorang wanita dengan ditemani oleh laki-laki yang standby berada di sepeda motor (lengkapnya 4 orang). Maling ini mencoba mencongkel sepeda motor besar sejenis Kawasaki ninja, namun gagal. Hal ini berakibat rusaknya kunci sepeda motor tersebut sehingga pemiliknya tidak bisa menggunakan kunci aslinya. Dengan terpaksa mendatangkan seseorang (tukang bengkel ?) untuk memperbaikinya.

Ternyata disebelah sepeda motor tersebut yaitu motor matic sejenis Honda vario juga menjadi korban pencongkelan karena kuncinya juga rusak. Dan sebelahnya lagi juga sepeda motornya rusak pada kuncinya. Jadi total pada saat itu ada tiga sepeda motor yang menjadi korban pencurian namun gagal.

Pertanyaannya adalah kemana si satpam ? Selidik punya selidik rupanya si satpam tidak berada di luar untuk menjaga melainkan berada di dalam ruangan. Entah sedang apa berada di dalam padahal seharusnya tugasnya di luar.

Seharusnya EF meningkatkan keamanan terutama dibagian parkir kendaraan sepeda motor dan mobil yang lokasinya tepat berada di depan pintu masuk EF. EF berkewajiban untuk mengamankan fasilitas dan aktivitas pendukung yang berada di lingkungannya. Satpam berkewajiban untuk menjaga situasi dan kondisi menjadi aman. Satpam jangan ngadem di dalam ruangan AC. Satpam jangan lengah. Kalau perlu satpamnya ditambah untuk kemanan dan kenyamanan siswanya.

Thursday, August 6, 2015

Promosi Pizza Hut bohong ???


Pada saat makan di restoran Pizza Hut maka kita akan mendapat informasi untuk mengisi survey melalui internet yang beralamat di www.halopizzaindonesia.com. Sebagai penghargaannya maka kita akan mendapat garlicheese bread gratis. Wah, lumayan juga nih.

Sebenarnya pengisian survey dengan imbalan gratis ini pertama kali diadakan oleh restoran Burger King. Jadi bukan suatu hal yang asing buat saya untuk mengisi survei seperti ini. Saat itu, setelah selesai mengisi survey maka akan muncul kode nomor yang perlu dicatat untuk ditunjukkan ke kasir. Ketika itu Burger King memberikan French fries atau kentang goreng.



Keesokannnya saya mengisi survei Pizza Hut sesuai dengan petunjuk-petunjuknya. Biasalah yang ditanya mengenai kepuasan kita makan produk ini dan apakah kita akan merekomendasikan produk ini kepada orang lain dst. Ternyata setelah mengisi survey tersebut kode voucher atau e-voucher tidak muncul melainkan akan dikirim ke email. Tunggu punya tunggu 1 hari telah lewat, 1 minggu telah lewat, 3 minggu juga tidak ada kiriman email dari Pizza Hut. Ah…bagaimana ini.

Kemudian pada kesempatan berikutnya saya makan di restoran Pizza Hut lagi dan mendapat brosur promosi lagi seperti diatas. Iseng-iseng saya bertanya kepada kasirnya kenapa tidak ada email balasan padahal sudah pernah mengisi surveinya. Kasir hanya menjawab harusnya dapat email maksimal dua hari.

Pada hari berikutnya saya mengisi survei lagi untuk kedua kalinya. Selanjutnya saya tunggu email balasan namun tetap tidak ada balasannya. Saat saya menulis ini sudah hampir 2 minggu lamanya menunggu email dari Pizza Hut.


Entahlah apakah promosi ini bisa disebut sebagai membohongi konsumen atau tidak, saya tidak tahu. Yang jelas promosi ini sudah membuat saya kecewa.

Wednesday, August 5, 2015

Komplain tentang souvenir EF


Hari kedua kursus di EF (English First) siswa yang bernama miss Y komplain karena dirinya tidak mendapat hadiah souvenir. Padahal dirinya sudah membayar 3 term (tingkat) sekaligus. Saya hanya bisa menyarankan untuk menanyakan ke mas Ade yang berada di meja receptionist.


Miss Y pun menanyakan hal tersebut dan seperti sudah di duga mas Ade pura-pura tidak tahu atau lupa. Tunggu punya tunggu ternyata souvenirnya dijanjikan minggu depan. Seharusnya langsung saja diberikan toh nilai barangnya tidak seberapa. Mengapa harus mengulur-ulur waktu ?

Minggu depannya souvenir tidak juga diberikan walaupun sudah bertemu dengan mas Ade. Miss Y merasa risih dan saat mau pulang menanyakan lagi mengenai souvenir. Setelah menunggu akhirnya diberikan juga. Mengapa harus ditagih lagi berulang-ulang ? Apa tidak dicatat atau diingat ?


Monday, August 3, 2015

Fasilitas yang di dapat saat kursus di EF



Pada saat kursus di EF (English First) maka para siswa seharusnya mendapat fasiltas-fasilitas sesuai dengan yang dijanjikan atau dipromosikan tetapi ada kalanya hal itu harus ditagih dulu oleh siswa untuk mendapatkannya. Fasilitas yang seharusnya diperoleh antara lain:

- Hadiah souvenir sesuai promosi misalnya tempat pensil atau tas dll
- Laboratorium komputer
- Akses online siswa
- Akses online orangtua
- E+
- Life club