Friday, July 31, 2015

Hari pertama kursus di EF


Pengalaman pada hari pertama kursus di EF (English First) sebagai siswa baru cukup menyenangkan. Bertemu dengan orang-orang baru sehingga menambah hubungan pertemanan. Tingkat yang sekarang  adalah tingkat A2.2 (jumlah tingkatan dapat dilihat pada tulisan sebelumnya). Jumlah siswa kurang lebih ada 12 orang yang terdiri dari 5 orang merupakan siswa lama yaitu dari kelas sebelumnya dan 7 orang merupakan siswa baru termasuk saya.

Latar belakang siswa bermacam-macam. Ada yang statusnya mahasiswa, ada pula yang baru lulus kuliah, ada juga yang bekerja dan ada yang sebagai ibu rumah tangga serta ada yang belum bekerja. Semuanya campur aduk bagaikan gado-gado.

Guru yang mengajar adalah native speaker bernama Andy dan berasal dari Canada. Usianya masih muda sekitar 24 tahun dan kulitnya berwarna hitam serta memiliki ciri khas rambut kribo gimbal seperti umumnya orang Afrika. Karena usianya masih muda maka penampilannya juga seperti anak muda. penampilannya saat mengajar seperti seorang penyanyi rap dengan tangan yang gerak-gerak dan badan yang goyang-goyang. Cara bicaranya jelas dan tidak cepat serta volumenya keras sehingga mudah untuk dipahami dan dimengerti.
Sesi pertama diisi dengan game yaitu perkenalan diri sendiri. Siswa satu per satu diminta untuk bicara mengenai dirinya misalnya nama, tempat tinggal, status, hobi dan lain-lain. Tentu saja dengan bahasa Inggris karena ini kelas belajar bahasa Inggris.

Bila diperhatikan, kesan pertama di hari pertama kursus maka kemampuan bahasa Inggris saya masih diatas mereka semua. Mereka masih belum bisa ngomong entah karena takut atau karena apa, ada yang belum banyak menguasai vocabulary dan lain-lain. Ini bukannya sombong, ini adalah kesalahan saya yang masuk pada tingkat rendah. Sehingga menjadi tidak sebanding atau tidak setara kemampuannya.


 Apa yang dikatakan orang-orang selama ini mengenai guru di EF tidak benar. Tidak benar bahwa gurunya adalah native speaker semua. Ada guru yang dari lokal atau dari dalam negeri juga. Tidak benar bahwa siswa diajar oleh native speaker terus-menerus. Siswa diajar oleh guru native speaker selama 1 bulan dan guru lokal selama 1 bulan (lama satu tingkat adalah 2 bulan). Jadi prosentasenya separuh-separuh.

Catatan :
(Per September 2015 guru native speaker hanya 2 minggu dan guru lokal selama 6 minggu) 

Wednesday, July 29, 2015

Pengalaman menggunakan Honda Spacy Helm In


Pengalaman menggunakan sepeda motor dengan persneling manual sudah biasa. Sekarang saya ceritakan pengalaman dengan sepeda motor perseneling automatic atau orang menyebutnya matic saja. Motor ini diawal-awalnya digunakan oleh kaum wanita namun rupanya kaum pria juga berminat untuk memakainya. Saya menggunakan sepeda motor Honda Spacy Helm In selama ini dapat saya ceritakan sebagai berikut.
Kelebihannya adalah :
  
-        Memiliki kecepatan yang lumayan bisa ngebut karena didukung oleh CC yang lumayan juga yaitu 110 CC.
 
-       Memiliki bagasi penyimpanan yang besar dibawah tempat duduk sehingga bisa dimasukkan helm didalamnya. Namun helm yang terlalu besar tidak akan muat.

-         Kapasitas tangki bensin besar yaitu mampu menampung sebanyak 5,5 liter.

-         Mudah penggunaannya karena tidak perlu menggunakan kaki untuk penggantian persneling.

-         Ada pengamannya, bila standard samping masih berdiri maka kendaraan tidak bisa di starter. Hal ini berguna untukmenghindari anak kecil yang bermain-main dan menekan tombol starter. Sebelumnya, sering terjadi anak kecil yang sedang bermain-main atau sedang duduk menunggu diatas kendaraan pada saat kendaraan hidup. Lalu mereka memainkan gas tangan sehingga kendaraan bergerak dan celaka. Hal ini tentu berbahaya sekali.

-        Pengaman kedua, rem belakang harus ditekan agar bisa di starter . Hal ini berguna agar kendaraan tidak loncat saat saat di starter.

Kekurangannya adalah :

-         Boros bensin. Hal ini disebabkan pada umumnya jenis matic lebih boros dibandingkan jenis yang manual.

-         Tempat duduk yang lebar membuat tidak nyaman pengendara sehingga pengendara cenderung memilih duduk di ujungnya saja. Padahal bila duduk di ujungnya saja maka posisi tersebut akan membenturkan dengkul kaki dengan sayap sepeda motor.

-         Bila sepeda motor berhenti, agak kesulitan untuk menahannya dengan 1 kaki. Hal ini disebabkan oleh tempat duduk yang tinggi dan lebar. Untuk orang yang badannya pendek akan terasa kesulitan.

-         Posisi tombol klakson diatas tombol lampu sign kiri-kanan. Hal ini agak menyulitkan jempol untuk menekannya karena posisi jempol biasanya dibawah. Pada sepeda motor Honda type sebelumnya posisi tombol klakson ada dibawah.

-         Bentuk body yang lebar dibagian belakang sehingga mengurangi kelincahan dalam bergerak.

-         Jarum penunjuk bensin tidak sesuai. Pada saat berada di warna merah seharusnya menandakan bahwa bensin sudah tinggal sedikit,

-         Shockbreaker  yang terlalu empuk mengakibatkan sering ban terkena bagian bawah body kendaraan. Apalagi bila bebannya 2 orang dan jalannya bergelombang.

Demikianlah apa yang saya rasakan dan alami selama mengendarai sepeda motor Spacy Helm In. Apakah anda merasakan hal yang sama ?

 

Tuesday, July 28, 2015

Servis Sepeda Motor


Seperti biasanya secara regular saya menservis sepeda motor saya  di bengkel resmi Honda atau yang biasa disebut dengan AHASS. Bengkel AHASS ada banyak dan tersebar dimana-mana. Mengapa memilih AHASS ? Karena sudah jelas bengkel tersebut resmi dari Honda dan bukan bengkel perseorangan. Walaupun mungkin pemiliknya perseorangan namun setidaknya secara kualitas, prosedur, spare part dan mekanik mengikuti standard Honda. Mengenai harga memang sedikit lebih mahal dari pada bengkel biasa namun setidaknya ada jaminan kualitas dan keaslian barang yang didapat. Jadi tidak masalah bagi saya.

Hari itu saya memilih bengkel Honda AHASS di jalan meruya utara yang namanya Meruya Motor. Dulu saya sudah pernah datang kesini jadi ini kedua kalinya saya service disana. Antrian cukup banyak. Sekarang yang namanya pergi ke bengkel harus punya effort yang cukup tinggi terutama untuk segi waktu dan menunggu.

Namanya service rutin atau tune up jadi semua bagian akan dibersihkan atau disetting .  Keluhan saat ini adalah  jarum speedo meter tidak jalan, lampu depan mati dan ada rembesan oli di bagian bawah. Jadi saya jelaskan di awal pada receptionisnya yang merangkap sebagai kasir mengenai hal tersebut. Untuk speedo meter tidak jalan biasanya disebabkan kabelnya putus dan perlu diganti.  Sedangkan untuk lampu depan saya curiganya saklarnya karena kedua lampu mati utk jarak pendek sedangkan bila di switch ke jarak jauh kedua lampunya masih nyala. Biasanya kalau bola lampunya yang mati maka matinya satu per satu dan tidak bersamaan.

Setelah menunggu beberapa lama maka service telah selesai dan kasirpun menyodorkan kwitansi dengan total tagihan Rp.342.000,- . Setelah membayar, kasir memberikan kwitansinya. Sambil berjalan saya mengecek item-itemnya dan ada beberapa barang yang saya tidak tahu dan tidak dikonfirmasi pada saya sebelumnya. Misalnya dua buah ofring klep (?) seharga 20 ribu dan cliner & cauhon (?) seharga 67 ribu.


Untung belum pulang dan masih disana, saya kembali ke tempat kasir menanyakan kepada kasir mengenai cliner dan cauhon itu apa karena nilainya cukup besar. Jawaban kasir cukup mengejutkan bahwa itu adalah pembersih yang digunakan untuk injection. Trus dijawab lagi “ini masih ada sisanya bisa dibawa pulang”, sambil terus sibuk ngerjain sesuatu. Saya pun terpaksa diam saja dan merelakannya. Dalam hati, sepeda motor saya kan masih karburator dan bukan injection. Supra X Helm In untuk keluaran tahun pertama masih menggunakan karburator dan tahun kedua baru menggunakan injection. Seumur-umur belum pernah ada item pembersih selama servis di bengkel manapun karena memang sepeda motornya bukan injection. Rencana di awal saya akan memberikan tips buat mekaniknya namun dengan adanya kejadian tersebut maka saya batalkan.

Sebenarnya saya sudah merasa curiga saat mekanik banyak minta ganti spare part. Ketika ganti kabel speedo meter, dia juga meminta untuk ganti gear box, alasannya sudah rusak tanpa memperlihatkan gear box yang rusak tersebut pada saya. Saya berpikiran positif dan menyetujui. Kemudian minta ganti klip rumah lampu yang katanya tidak ada dan sayapun menyetujuinya. Lalu dia menyuruh ganti ban depan padahal kondisinya masih ada kembangannya dan belum gundul. Sayapun menolaknya.  

Pada service sebelumnya di bengkel AHASS lainnya, saya diberitahu oleh mekaniknya bahwa saringan filter udaranya perlu diganti karena sudah rusak. Jadi saya sudah siap untuk menggantinya. Namun pada service  kali ini saya tidak disuruh menggantinya. Cukup aneh juga ya, apakah karena tidak di cek atau kelewatan ngeceknya ? Entahlah….

Ini pengalaman yang kurang menyenangkan di bengkel tersebut. Mungkin ini ulah satu orang oknum saja dan mudah-mudahan tidak semua orang seperti itu. Jadi hati-hati bila pergi ke bengkel. Pastikan item-item barang yang ada di kwitansi sudah sesuai.

Monday, July 27, 2015

Sistim level di EF


Sistim tingkatan atau level yang ada di EF (English Fisrt) dapat saya jelaskan sebagai berikut mudah-mudahan tidak salah. Karena sulit sekali mencari tahu penjelasannya dari para pegawainya. Entah karena sengaja tidak mau ngasih tahu atau karena memang  tidak tahu.

Pada web site EF versi english town kalau saya perhatikan tercantum tingkatan dengan jumlah 16 tingkat saja seperti dibawah ini :
A1           = 3 tingkat
A2           = 3 tingkat
B1           = 3 tingkat
B2           = 3 tingkat
C1           = 3 tingkat
C2           = 1 tingkat
 



Ada perbedaan dengan web sitenya. Dari apa yang saya ketahui, pada kelas dewasa untukGeneral English ada 5 jenjang yaitu Basic, Intermediate, upper intermediate, advanced  dan upper advanced. Pada masing-masing jenjang dibagi lagi menjadi tingkatan yaitu  :
Basic                           = terdiri dari A1.1 , A1.2 , A1.3 , A2.1 , A2.2 , A2.3
Intermediate             = terdiri dari B1.1 , B1.2 , B1.3 , B1.4 , B1.5 , B1.6
Upper intermediate = terdiri dari B2.1 , B2.2 , B2.3 , B2.4 , B2.5 , B2.6
Advanced                   = terdiri dari C1.1 , C1.2 , C1.3 , C1.4 , C1.5 , C1.6
Upper Advanced       = terdiri dari C2.1 , C2.2 , C2.3 , C2.4 , C2.5 , C2.6


Tiap tingkat misalnya A1.1 ditempuh selama 8 minggu dengan perhitungan tiap minggu ada 2 kali pertemuan. Tiap pertemuan berlangsung selama 2 jam. Jadi totalnya adalah 32 jam. Bila ingin menempuh semua jenjang maka tinggal dikali saja 8 minggu x 30 tingkat = 240 minggu atau 4,6 tahun. Tiap 1 tingkat ini biasanya mereka menyebutnya dengan 1 term.

Kursus untuk anak-anak dibagi menjadi Small star, High flyers, Trailblazers dan Frontrunner dengan peruntukan sbb:
Small star       = untuk usia 4-6 tahun
High flyers     = untuk usia 7-9 tahun
Trailblazers    = untuk usia 10-13 tahun
Frontrunner   = untuk usia 14-17 tahun


Kelas untuk dewasa jarang ada sedangkan yang paling banyak tentu kelas untuk anak-anak. Dalam promosinya ada kelas bussiness english namun ternyata tidak ada. Demikian juga tidak ada kelas TOEFL, IELTS dan conversation. Entahlah mengapa tidak ada peminatnya atau sebenarnya memang tidak diselenggarakan.

Friday, July 24, 2015

Beli Handphone baru


Bulan lebaran ini saya ingin membelikan dua orang dekat saya dengan Handphone baru. Tidak perlu mahal-mahal yang penting spesifikasinya cukup mumpuni dan sistim operasinya android. Ada beberapa pilihan alternatif dan pilihan terakhir jatuh pada Xiaomi RedMi 2.

Untuk merek Xiaomi sendiri adalah buatan China tapi kualitasnya cukup bagus dan sejajar dengan Iphone. Harganya 1,6 juta dengan spesifikasi sebagai berikut :
                Kamera           = 8 MP
                Layar               = 4,7 inch
                Memory RAM = 1 GB
                Memory intern = 8 GB
                Jaringan           = LTE atau 4G
                OS                  = Android Kit Kat
                CPU                = Quad Core

Cukup jarang ditemui di toko-toko HP karena sebenarnya mereka menjual dengan sistim online. Namun akhirnya dapat juga karena ada yang jual walaupun harganya lebih mahal sedikit dari pada di toko online tak apalah. Cuma saat dibuka boxnya kok tidak ada kartu garansinya ? Padahal ada garansinya selama setahun kata pegawainya. Ya sudah saya simpan saja kwitansinya sebagai bukti nanti.


Untuk HP kedua maka pilihan jatuh pada merek Lenovo A328 yang di koran ternyata ada promosi mendapatkan hadiah kaos. Harganya Rp. 1,1 juta. Pencarian di toko-toko resmi sesuai dengan yang tercantum dalam iklan ternyata tidak ada alias kosong. Sudah ada 5 toko resmi yang dihampiri erafone (2 toko), era plus, global teleshop dan oke shop namun barangnya tidak ada. Wah…bagaimana ini. Sudah diiklankan tapi kenyataannya berbeda. Apakah ini hanya trik marketing saja ?
    Kamera           = 5 MP
                Layar               = 4,5 inch
                Memory RAM = 1 GB
                Memory intern = 4 GB
                Jaringan           = HSPA atau 3G
                OS                  = Android Kit Kat
                CPU               = Quad Core


Setelah capai kesana kemari, akhirnya menemukan ada satu toko di luar yang resmi tadi yang mempunyai stok. Tentu saja membeli disini tidak dapat hadiah kaos. Ya sudahlah…..

Thursday, July 23, 2015

Tes wawancara di EF


Setelah pulang replacement test dari EF (English First), saya baru tersadar bahwa saya tidak dites wawancara seperti umumnya apa yang saya baca di internet berdasarkan pengalaman orang-orang. Jadi bagaimana dia bisa memutuskan tingkat berapa tanpa ada tes wawancara. Sesuatu yang aneh rasanya.

Pada 3 hari berikutnya, saya datang lagi ke EF dan menanyakan tentang tes wawancara dan dengan gampangnya mereka menjawab “oh belum ya, tunggu dulu ya karena Mr.Kris yang akan mewawancarai  masih sibuk”. Sayapun menunggu dengan sabar.

Kira-kira 15 menit kemudian saya dipanggil masuk ke ruangan kaca yang sempit tempatnya dan disambut dengan Mr.Kris seorang native speaker yang kalau tidak salah berasal dari Inggris. Orangnya besar dan gemuk. Dia adalah kepala sekolah disana. Lalu diadakan tanya jawab mengenai perkenalan diri, pekerjaan, hobi dan termasuk apakah saya pernah keluar negeri sebelumnya dll. Saya menjawabnya dengan lancar tetapi diawal agak susah menangkap pembicaraannya. Hal ini disebabkan pronunciationnya kurang bagus (guru-guru juga sering mengatakan hal yang sama). Bayangkan anggapan guru-gurunya sendiri seperti itu apalagi saya yang hanya calon murid. Jadi memang pelafalan ybs kurang bagus.

Selesai sudah tahap wawancara dan Mr. Kris menuliskan tingkat yang sesuai di sebuah kertas dan diserahkan pada mas Ade. Mas Ade yang bertugas saat itu di meja receptionis. Mas Ade lalu membuka-buka bantex melihat sesuatu yang sepertinya rahasia buat saya. Lalu dia mengatakan bahwa saya diputuskan masuk ke tingkat A2.2.  Wah ada kemajuan nih karena sebelumnya disuruh masuk ke tingkat A2.1. Saya sempat melihat tulisan Mr. Kris yang kebetulan tergeletak di meja dan waduh…. Tulisannya B1.1. Saya menanyakan keputusan yang berbeda ini tapi mas Ade menyangkalnya dan menyembunyikan kertas tersebut.

Saya rasa unsur bisnis sudah mulai kentara. Artinya murid diusahakan ikut mulai dari tingkat yang terendah sehingga akan banyak tingkat yang akan diikuti dan tentu saja pemasukannya banyak. Bayangkan kalau murid sudah berada di tingkat atas maka hanya sebentar saja sudah tamat dan pemasukannya sedikit.

Mengapa sekarang tingkat A2.2 ? Karena tingkat A2.1 sudah berjalan separuh dan bulan berikutnya sudah naik ke tingkat A2.2. Jadi saya ikut pada kelompok yang sama dengan kelompok A2.1 tapi saya sudah berhemat uang 1 tingkat. Mengapa EF tidak konsisten ? Kalau memang kemampuan saya pada A2.1 ya seharusnya ditempatkan pada tingkat tersebut. Saya menebak, aktifitas membuka-buka bantex adalah untuk melihat tingkat kursus yang tersedia. Dan tingkat A2.1 ternyata tidak ada, adanya tingkat A2.2 untuk bulan depan. Jadinya saya dimasukkan ke tingkat tersebut. Perlu diketahui tingkat yang ada untuk dewasa saat itu hanya ada 3 kelas dengan jarak yang cukup jauh levelnya.  Jadi tidak semua tingkat ada siswanya.
 
Sayapun berpikir keras apakah akan ikut kursus atau tidak. Akhirnya saya memutuskan ikut kursus dengan pertimbangan mencoba dulu dan ingin tahu apa dan bagaimana EF. Sebagus apakah EF ? Apakah kualitasnya sebagus yang digembar-gemborkan orang ? Kartu kredit sudah dikeluarkan dari dompet tapi pegawainya bilang ada tambahan biaya chargenya. Walah...dalah... perusahaan sebesar ini masih ngecharge kartu kredit. Padahal pihak bank dan penerbit sudah lama mewanti-wanti agar konsumen menolak biaya charge ini.

Sayangnya saya tidak dibolehkan ikut free trial class dengan berbagai alasan. Harus nanya dulu ke gurunya lah, harus 3 hari sebelumnya daftar lah, dll. Dalam hati saya bergumam ya sudahlah, yang penting sudah daftar dan sudah bayar, nanti juga ngalami sendiri di kelas.

Wednesday, July 22, 2015

Pengalaman menambal ban tubeless


Insting saya mengatakan bahwa ada yang bocor dan yang bocor adalah tempat bekas kena paku itu. Hal ini berdasarkan pengamatan saya dari tempat itu mengeluarkan cairan rembes. Tidak banyak memang tapi kalau diteliti setelah dibersihkan besoknya ada bekasnya lagi. Memang kalau dicek tidak kelihatan bocornya karena halus sekali. Kalau tidak halus kan dalam waktu sejam sudah kempes.
Dan yang membuat saya kecewa adalah cairan anti bocor tidak berfungsi sebagaimana dipromosikan. Bukankah seharusnya cairan anti bocor akan bekerja layaknya lem yang akan merekatkan lubang dan sekaligus menutup lubangnya ? Tetapi cairan ini tidak lengket bila disentuh dan bukan seperti lem. Arghhhh.....
Dari pada aktivitas saya terganggu maka sayapun membawanya ke pom bensin yang melayani tambal ban tubeless. Sayapun langsung menunjukkan tempat bekas kena paku kepada petugasnya. Petugaspun langsung menambal bannya.

Cara menambal ban tubeless berbeda dengan ban biasa. Pertama-tama ban akan ditusuk dengan alat semacam obeng sehingga membuat semacam lubang. Lalu obeng tersebut dilepas kembali. Kemudian karet sepanjang kurang lebih 5 cm diberi lem kuning dan ditaruh pada obeng yang lain lagi. Selanjutnya  ditusukkan ke ban dan karet ditinggalkan sehingga menutup lubang yang bocor. Terakhir, obeng dilepas.

Perbedaan hasil tambalan dengan ban biasa adalah ada tonjolan karet sisa tambalan. Hal ini tidak berdampak pada jalannya kendaraan karena sifat karet adalah elastis dan empuk. Bentuknya tidak begitu besar namun terlihat jelas oleh mata sehingga sedikit mengganggu pemandangan. Bagaikan seorang gadis cantik yang tidak mulus lagi.....
Langsung sepeda motor bisa dipakai. Wah cepat sekali hanya kurang lebih 5 menit sudah selesai. Sayapun sempat memastikan dan bertanya harus menunggu berapa lama agar lem kering. Jawabannya, bisa langsung dipakai. dan ternyata memang benar bisa dipakai langsung.  Biaya untuk menambal itu Rp. 15 ribu ditambah isi nitrogen Rp. 3 ribu jadi total Rp. 18 ribu. Memang cukup mahal dibanding tambal ban biasa yang seharga Rp.10 ribu.



Perbedaan hasil tambalan dengan ban biasa adalah ada tonjolan karet sisa tambalan pada sisi luar ban sehingga mengganggu pemandangan mata. Pada gambar terlihat warna coklat dan di sekitarnya ada bekas lem yang nantinya akan hilang. Namun hal ini tidak berpengaruh pada jalannya kendaraan itu sendiri karena sifat karet yang lentur dan empuk. Hanya fisik luar saja bagaikan seorang gadis yang ada jerawatnya....

Saat ini sudah 1 minggu berlalu dan ban dalam kondisi aman-aman saja. Berarti benar insting saya mengenai letak bocor halusnya. Dari pengalaman ini, bila terjadi bocor halus pada ban tubeless maka akan susah mendeteksinya. Lebih mudah mendeteksinya pada ban biasa karena pengecekannya menggunakan ban yang direndam dalam air sehingga muncul gelembung-gelembung udara.
Apakah anda ingin menggunakan ban type tubeless ?

Saturday, July 18, 2015

Pengalaman ban tubeless kena paku


Ban tubeless baru saja di beli kurang lebih 2 mingguan tapi ternyata sudah kena paku. Memang benar terbukti bahwa walaupun sudah kena paku tapi bocornya tidak langsung kempes seketika. Herannya paku yang menancap cukup besar, lurus dan masih seperti baru, belum karatan dan tidak bengkok-bengkok. Jadi bagaimana bisa nancap di ban, itulah yang jadi pertanyaan saya. Logikanya bila paku lurus dan berada di jalanan maka posisinya adalah mendatar dengan aspal jalan (posisi tidur). Sehingga ketika dilewati oleh ban maka akan terlewati bukannya menusuk ban.

Untunglah saya memakai cairan anti bocor yang dimasukkan ke dalam ban yang menurut pegawai tokonya akan menyumbat kebocoran yang terjadi. Dengan menggunakan tang maka sayapun mencabut paku tersebut. Paku berhasil dicabut dan harapannya cairan anti bocor bekerja.

Keesokannya ban agak sedikit berkurang tekanannya dan saya berpikir bahawa itu akibat dari kena paku selama paku belum dicabut. Sehingga saya menambahkan gas nitrogen ke planet ban sekaligus mencoba fasilitas member yaitu gratis isi nitrogen. Ban diisi dengan tekanan 36. Entahlah berapa standardnya tekanan pada ban tubeless ini karena pada saat membeli diisi dengan tekanan 37.

Pada  hari kelima ketika akan menggunakan sepeda motor di pagi hari terasa ban kempes sekali. Saya memeriksa keadaan ban apakah kena paku lagi atau tidak. Ternyata tidak. Namun saya melihat dari bekas kena paku sebelumnya terlihat  mengeluarkan cairan yang setengah kering. Saya tebak cairan itu adalah anti bocor. Terabanya seperti air biasa dan bukan seperti lem seperti perkiraan saya sebelumnya.

Saya masih berpikir positif bahwa mungkin perlu waktu untuk cairan tersebut melengketkan atau menutup lubang bocor itu. Maka saya isi nitrogen lagi ke planet ban sambil menanyakan bocor halus itu. Ban diisi dengan tekanan 35. Padahal sebelumnya diisi dengan 37 dan 36. Entah kenapa selalu berbeda. Kalau ban biasa saya tahu standardnya yaitu 33. Untuk bocor halusnya diperiksa seluruh ban dan hasilnya normal, tidak terdeteksi bocornya. Pegawainya bilang bahwa merek swallow memang sering bocor halus dari sisi velg. Katanya sih demikian tapi tetap menganggap tidak ada kebocoran. Dan juga took planet ban tidak melayani tambal ban tubeless.

Sepeda motor dipakai kembali dan dalam waktu 3 hari terasa kempes kembali. Saya membawanya ke toko planet ban lainnya. Kembali diperiksa dan dijawab tidak ada yang bocor. Lucunya kali ini karyawannya mengatakan kalau dalam waktu 4 hari terus tekanan ban berkurang adalah sesuatu yang normal.  Berarti sudah 2 toko planet ban yang mengatakan tidak ada yang bocor. Pusing juga jadinya, kemana lagi harus mengecek ?

Friday, July 17, 2015

Pengalaman ikut test di EF (English First)


Beberapa hari kemudian saya mendaftar melalui internet untuk placement test dan free trial secara gratis dan setelah itu langsung  ada orang dari EF yang menelepon.  Dia  menawarkan kursus secara online tetapi saya tolak karena bukan kebutuhan saya, kebutuhan yang saya inginkan adalah kursus tatap muka di kelas. Selanjutnya saya menghubungi Mbak Nita di EF dan mengabarkan bahwa saya sudah daftar di internet. Dia menjawab langsung aja datang karena promo hari ini memang gratis walau tidak perlu daftar lewat internet tidak apa-apa. Jeglerrrrrrr !!!!! Dalam hati, kenapa kemaren nggak bilang seperti ini ???.

Saya pun datang di EF dan di layani oleh mas Meta. Kemudian diberikan soal-soal berupa kertas  fotocopian dan masuk ke ruangan kecil dengan dinding kaca untuk mengerjakannya. Saya sedikit heran karena dari apa yang saya baca di internet pengalaman orang-orang  test di EF menggunakan komputer secara langsung, bukan kertas soal. Ya namanya masih calon siswa hanya bisa bergumam dalam hati.

Soal sudah selesai dijawab dan sekarang lagi dihitung nilainya. Kemudian Mbak Nita muncul dan bertanya apakah sudah pernah kursus lalu saya jawab belum pernah. Dia memberitahu bahwa saya masuk di level Basic A2.1. Ternyata level tersebut merupakan dasar sekali karena untuk level Basic ada 6 tingkat dan tingkat A2.1 adalah tingkat ke-4. (setelah saya menjadi siswa baru tahu tingkatnya A1.1, A1.2, A1.3, A2.1, A2.2 dan A2.3). Saya merasa tingkat tersebut terlalu rendah karena saya cukup mampu untuk berbicara aktif dengan bahasa Inggris. Bahkan saya pernah tinggal di luar negeri beberapa bulan yang otomatis komunikasinya dengan bahasa Inggris. Apakah ada hubungannya dengan jawaban saya tadi bahwa belum pernah kursus bahasa Inggris, saya tidak tahu. Yang jelas, tidak pernah kursus bukan berarti tidak bisa bahasa Inggris bukan ? Saya belajar bahasa Inggris saat di sekolah sampai universitas bahkan abstract skripsi dibuat dalam bahasa Inggris. Jadi tidak bodoh-bodoh amatlah

Saya mencoba menegosiasikan mengenai tingkat ini tapi dia tetap mengatakan tidak bisa. Dia mengatakan bahwa soal test ada beberapa urutan dan saya gagal diurutan A2.1.  Walaupun untuk urutan berikutnya nilai saya bagus tapi tidak dihitung. Dalam hati aneh juga ya, mengapa tidak dihitung secara keseluruhan nilainya. Dan keanehan lainnya adalah kenapa tidak ada test wawancara seperti yang saya baca dari pengalaman orang lain di internet. Lagi-lagi saya hanya bisa bergumam dalam hati.

Giliran mengenai biaya kursus. Dia terlihat membuka-buka kertas sambil sembunyi-sembunyi di sebuah bantex sepertinya saya dilarang untuk melihat isinya.   Saya dikenakan biaya kursus sebesar Rp.2,4 juta rupiah per 1 term. Istilah EF untuk 1 tingkat adalah 1 term. Bila saya membayar 2 term maka saya mendapat diskon sebesar Rp.400 ribu rupiah dari yang semula Rp.4,8 juta menjadi Rp.4,4 juta. Kalau bayar 1 term saja tidak ada diskon.

Sekarang mengenai jadwal kursus. Rupa-rupanya untuk tingkat A2.1 sudah berjalan 2 minggu dan tidak ada kelas baru untuk bulan depan.  Untuk 1 term atau 1 tingkat ditempuh selama 8 minggu dengan 2 kali pertemuan perminggu. Setiap pertemuan berlangsung selama 2 jam. Jadi total 1 tingkat sama dengan 32 jam atau 16 kali pertemuan atau 2 bulan lamanya. Jadi saya sudah rugi 4 kali pertemuan. Saya bertanya apakah saya harus membayar penuh atau ada diskon untuk 4 kali pertemuan yang tidak saya ikuti. Jawabannya tetap harus bayar penuh. Dalam hati kok aneh ya, harusnya kan bayar proporsional. Saya bertanya lagi, apa saya tidak ketinggalan pelajaran ? Jawabnya  bisa ikutan yang namanya E+ (setelah masuk saya baru tahu bahwa E+ adalah pelajaran tambahan dengan durasi 80 menit). Apakah saya mendapat 4 kali E+ ? Jawabnya paling maksimal 2 kali. Saya coba nego dengan 4 kali tetapi dia tidak mau.


Akhirnya, karena tidak deal maka tidak jadilah saya membayar hari itu. Walaupun dia berusaha merayu untuk membayar segera dan memberikan diskon Rp.200 ribu untuk 1 term.

Wednesday, July 15, 2015

Pengalaman menggunakan Honda Supra X Helm in


Pengalaman menggunakan sepeda motor Honda Supra X Helm in selama ini dapat saya ceritakan sebagai berikut.

Kelebihannya adalah :

-          Memiliki kecepatan yang tinggi alias bisa ngebut karena didukung oleh  CC yang tinggi juga yaitu 125 CC. Angka 125 ini termasuk yang tertinggi di kelas bebek karena pada umumnya hanya 110 CC atau 115 CC.

-          Memiliki bagasi penyimpanan yang besar dibawah tempat duduk sehingga bisa dimasukkan helm didalamnya. Namun helm yang terlalu besar tidak akan muat.

Kekurangannya adalah :

-          Sedikit agak boros bensin. Hal ini disebabkan oleh Supra X Helm In memiliki CC yang tinggi. Semakin tinggi CC nya maka semakin boros bensinnya.

-          Tempat duduk yang lebar membuat tidak nyaman pengendara sehingga pengendara cenderung memilih duduk di ujungnya saja. Padahal bila duduk di ujungnya saja maka posisi tersebut akan membenturkan dengkul kaki dengan sayap sepeda motor.

-          Bila sepeda motor berhenti, agak kesulitan untuk menahannya dengan 1 kaki. Hal ini disebabkan oleh tempat duduk yang tinggi dan lebar. Untuk orang yang badannya pendek akan terasa kesulitan.

-          Kaca spion yang terlalu panjang ke samping. Hal ini mengakibatkan kaca spion sering berserempetan atau bertatapan dengan pengendara lain.

-          Posisi tombol klakson diatas tombol lampu sign kiri-kanan. Hal ini agak menyulitkan jempol untuk menekannya karena posisi jempol biasanya dibawah. Pada sepeda motor Honda type sebelumnya posisi tombol klakson ada dibawah.

-          Rem belakang kurang pakem. Padahal sudah menggunakan cakram disk. Sudah berulang kali konsultasi ke bengkel namun selalu dijawab “ya memang seperti itu”.

Demikianlah apa yang saya rasakan dan alami selama mengendarai sepeda motor Supra X Helm In. Apakah anda merasakan hal yang sama ?

Tuesday, July 14, 2015

Membeli ban tubeless untuk sepeda motor


Sudah saatnya saya mengganti ban belakang sepeda motor yang sudah tipis. Teman-teman menyarankan untuk menggunakan ban jenis tubeless seperti umumnya yang dipakai mobil. Memang masih jarang orang yang menggunakan ban  jenis ini karena memang masih baru muncul. Biasanya orang memakai ban jenis tube yang ditambah dengan ban dalam.

Pada dasarnya kelebihan ban tubeless sebagai berikut :
-          Bentuk dan bodi ban lebih besar.
-          Bahan lebih tebal dan lebih keras.
-          Performa lebih kuat dan lebih kokoh.
-          Bila terkena paku tidak langsung bocor dan tidak langsung kempes.

Kekurangan dari ban tubeless sebagai berikut :
-          Hanya bisa dipasang pada Velg racing.
-          Harga lebih mahal.
-          Bila kempes menuntun sepeda motornya terasa berat.
-          Bila bocor halus sangat sulit untuk menemukan posisi bocornya.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli ban tubeless buat sepeda motor saya di planet ban. Harga di sana memang agak mahal dibandingkan dengan bengkel-bengkel pada umumnya. Namun kelebihannya adalah kita bisa mengisi ban dengan nitrogen gratis selama 1 tahun. Nitrogen lho bukan angin biasa. Sekali isi nitrogen seharga Rp. 3000 di pom bensin. Sedangkan disini gratis dan bisa di cabang-cabang planet ban lainnya. Setiap pembeli akan mendapat kartu member yang bernama Kartu Apung dan berlaku selama 1 tahun. Kartu ini harus dibawa saat melakukan isi Nitrogen.
 
Banyak pilihan merek yang tersedia baik yang murah maupun yang mahal. Saya pilih merek Swallow yang harganya ditengah-tengah. Ban type Samurai seharga Rp.184 ribu, pentil seharga Rp.8 ribu dan cairan anti bocor Rp.41 ribu. Jadi total pengeluaran Rp. 233 ribu. Oh ya, fungsi dari cairan anti bocor adalah ketika kena paku dan paku dicabut maka tidak akan bocor lagi karena tertutup oleh cairan tersebut. Sempat juga didemokan oleh karyawannya pada ban contoh sehingga membuat saya tertarik. Apakah anda tertarik juga pakai ban tubeless ?

Monday, July 13, 2015

Daftar kursus bahasa Inggris di EF



Siapa yang ingin bisa bicara dengan bahasa Inggris ? Jawabannya mungkin hampir semua orang termasuk saya. Pertanyaannya kemudian, siapa yang sudah pernah kursus bahasa Inggris ? Jawabannya mungkin hanya sedikit orang. Saya adalah salah satu dari orang-orang yang belum pernah kursus bahasa Inggris. Banyak faktor dan pertimbangan yang belum memungkin untuk kursus.

Sekarang saya memiliki kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Untuk itu berbagai informasi saya kumpulkan baik melalui internet maupun telepon langsung ke kantornya. Ada EF atau English First, LIA atau Lembaga Indonesia Amerika yang sekarang berganti nama menjadi Language In Action sesuai web sitenya atau disebut LIA saja, TBI atau The British Institute dan ILP atau International Language Program.

Informasi dari teman dan kenalan merekomendasikan EF. Kebanyakan dari mereka sendiri tidak ikut kursus melainkan anak-anaknya yang ikut kursus. Alasannya adalah tempatnya bagus dan pengajarnya native speaker (orang asing). Tentu merupakan suatu kelebihan dibanding tempat lainnya. Selama ini saya sering lewat tempat tersebut di malam hari dan terlihat ramai sekali yang mengikuti kursus dengan deretan mobil-mobil yang diparkir didepan ruko tersebut. Ya, EF BSD menempati ruko tiga lantai dan kalau tidak salah sebanyak empat ruko digabung menjadi satu.

Saya tidak sempat mengunjungi TBI, ILP dan LIA karena prioritas pertama saya adalah EF. Apakah EF di Indonesia sama dengan EF di luar negeri, seharusnya ya. Tetapi entah kenapa  singkatan yang dipakai berbeda. EF di indonesia kepanjangan dari English First sedangkan EF diluar negeri adalah Education First. Saya menelepon EF, tidak banyak informasi yang diberikan oleh pegawai EF yang bernama mbak Nita atau Mita (sebut saja Nita aja)  dan saya disuruh datang ke kantornya. Rasanya kesan pertama sedikit aneh karena tidak friendly.

 
Sekitar awal tahun 2015 Saya mencoba datang ke EF sekitar jam 11 siang. Sebelumnya saya membaca di web sitenya bahwa  tes penempatan gratis dan bisa trial kelas gratis juga. Tempatnya bagus setidaknya di loby atau receptionisnya dan kelas yang didekat situ juga terlihat isi dalamnya karena berdinding kaca. Tapi tidak ada seorangpun yang duduk di meja resepsionis. Celingak-celinguk kesana-kemari tidak ada orang. Trus saya ketemu seseorang yang merupakan pegawai EF dan saya utarakan keinginan saya untuk bertemu dengan mbak Nita maka dipanggilah ybs yang sempat disebut dengan sales.

Cukup lama menunggu kurang lebih 10 menit tapi belum datang-datang dan akhirnya muncul juga mbak Nitanya. Dia memperkenalkan diri sebagai advisor education. Kadang secara tak tersirat menyebut dirinya sebagai konsultan pendidikan. Apapun namanya menurut saya tetap sales karena tugasnya jualan.

Saya menanyakan hal-hal yang umum dan standard tapi jawaban yang diberikan kurang memuaskan dan kurang jelas. Sebagai contoh, mengenai jumlah tingkat di EF. Mbak Nita hanya menyebut bahwa ada tingkat Basic, intermediate, upper intermediate dan advanced. Padahal setahu saya di tingkat-tingkat tersebut  masih dibagi lagi beberapa tingkat. Ketika saya tanyakan itu dia hanya menjawab nanti akan dijelaskan pada saat sudah daftar atau ikut placement test. Saya juga menanyakan mengenai biaya kursusnya dan lagi-lagi dijawab nanti setelah daftar atau ikut placement test.  Untuk placement test harus bayar kalau tidak salah sebesar 150 ribu. Dalam hati, kok aneh sih. Seharusnya hal-hal dasar seperti ini diinformasikan kepada konsumen dengan jelas dan benar, bukannya malah ditutup-tutupi dan main rahasia-rahasiaan. Pengalaman saya pernah kursus di beberapa tempat dijelaskan detil mengenai biaya-biayanya sebelum kita daftar dan tingkatan-tingkatannya. Jadi kita bisa memutuskan apakah sesuai budget keuangan kita atau tidak.

Kebetulan sebelumnya saya baca di internet ada promo free placement test dan free trial. Sayapun menanyakan mengenai promo gratis tersebut. Tetapi jawaban Mbak Nita kurang menyenangkan. Katanya harus daftar dulu via internet. Lho kok gitu ? bukankah lebih bagus orangnya sudah datang langsung ? Mbak Nita “sedikit memaksa” untuk bayar saja tapi saya gak mau. Akhirnya hari itu gagal mendaftar…

Friday, July 10, 2015

Blog Baru

Saya membuat blog ini karena ingin membuat sebuah catatan mengenai pengalaman hidupku. Pengalaman yang baik maupun yang buruk akan menjadi sebuah torehan hidup dalam sejarah kehidupan itu sendiri. Apa yang terjadi pada masa lalu patut direnungkan dan dimaknai untuk melanjutkan hidup di masa sekarang dan masa depan.

Apa yang saya tulis baik itu yang bersifat baik atau buruk merupakan pengalaman hidup yang sesungguhnya dan pernah terjadi. Tulisan ini merupakan wujud dari apa yang saya rasakan, saya lihat dan saya dengar secara langsung. Kalaupun ada penyebutan nama orang atau nama perusahaan atau nama merek bukanlah untuk menjelek-jelekkannya atau justru mempromosikannya. Melainkan agar para pembaca mengetahuinya dan menjadikannya sebagai bahan pelajaran dalam mengarungi hidup ini.

Akhir kata, selamat membaca blog ini.
Terima kasih,